Senin, 09 November 2015

Sketsa Rindu

Malam yang semakin menepi

disudut gelap hati ini

melukiskan seribu wajah

takkan terlupakan walau tak ada bayangan

selalu teringat dalam imajinasi penuh rasa

yang biasa tertatap gedung kuning biru dalam keramaian



Gerit daun pintu posko, dan kota tua yang begitu gersang,

pasar 2 dan 4 istana yang tak terlupakan

50 kota kenangan tanpa jajanan

deretan pantai berjuta kenangan

ku gambar sketsa pilu dan rindu berkumpul dalam memoryam



Ingin kubaca gurat-gurat makna pada mata yang senja,

Ini sebuah sketsa yang tak bisa ku hapuskan

membuat sedih tanpa isyarat untuk melupakan

tak mengundang kesedihan melainkan penuh rasa kerinduan

terbayang olehku sketsa kisah yang tak mampu kugambarkan



Keterbatasan perasaan, tersekat dalam kenangan

menunggu bait setiap goresan

ditemani lirik dalam lisan

mentari terlalu lambat kau datang

hanya bintang dan sang rembulan yang mengerti

saat malam jumat gerimis yang selalu datang

bahwa hati telah merindukan waktu yang tak terulang



kini kertas putih bertinta hitam

dalam hati yang diam

menunggu akhir dari sebuah jeritan

disetiap detik ku ingin mengulang

satu cerita hidup yang begitu berkesan

dan tak mungkin lagi akan terulang

sebab ku masih menyimpan rindu yang mendalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar